-
Darmanto Zebua
JAMBISNIS.COM - Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM) mempertanyakan komitmen pabrikan mobil listrik asal China, BYD Indonesia untuk menyerap komponen otomotif buatan industri lokal.
Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmat Basuki mengungkap fakta bahwa perusahaan komponen otomotif yang tergabung dalam anggota GIAMM sudah melakukan penjajakan kerja sama (business matching) dengan BYD selama setahun terakhir. Namun hingga kini belum ada kesepakatan yang tercapai.
"Business matching dengan BYD sudah setahun lebih, tapi belum ada satu supplier pun yang deal, padahal katanya Januari 2026 mulai produksi?" kata Basuki dikutip dari Bisnis, Jumat (29/8/2025).
Perlu diketahui, BYD tengah membangun pabrik di Subang, Jawa Barat yang diestimasikan rampung pada akhir 2025 mendatang. Artinya, jika sesuai rencana, produksi mobil listrik lokal BYD dapat dimulai pada awal tahun depan.
Adapun, pembangunan pabrik PT BYD Auto Indonesia yang dilaporkan baru mencapai 45% per Mei 2025. Pabrik EV asal China itu memiliki kapasitas produksi 150.000 unit per tahun, dengan rencana investasinya sekitar Rp11 triliun.
Padahal, lanjut Basuki, berdasarkan informasi dari anggota GIAMM, tidak ada kendala apa pun yang terjadi selama proses penjajakan, sehingga pihaknya tidak mengetahui secara pasti apa penyebab BYD belum memutuskan untuk dapat menyerap komponen dari supplier lokal tersebut.